Oleh Fadli al-Akiti
17 Mac 2021, 09:27

Untuk mendapatkan maklumat terkini, ikuti kami melalui Telegram

Langgan Sekarang

Sempena Jubli Emas Dewan Sastera pada tahun ini, kami siarkan kembali wawancara bersama-sama Dr. Sastri Sunarti, editor dalam talian majalah sastera nasional Indonesia pada masa itu, Horison. Majalah sastera ini merupakan majalah “abang” kepada Dewan Sastera. Kemunculan majalah ini pada Julai 1966 di serata toko koran Indonesialah yang turut mencetuskan idea dalam kalangan para karyawan tempatan untuk melahirkan majalah sastera bagi rakyat Malaysia. Wawancara ini pernah tersiar dalam Dewan Sastera Bil. 4 2017.

Demikianlah, Horison harus menyesuaikan dirinya dengan perkembangan dunia setakat ini.

Berita penutupan majalah sastera terunggul Indonesia, Horison, telah menggegar penulis dan peminat sastera Malaysia. Majalah sastera yang lebih tua daripada Dewan Sastera (DS) dan sudah banyak berjasa mengabadikan nama-nama besar sasterawan Indonesia, termasuk Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Sutradji Calzoum Bahri, Taufiq Ismail, dan Budi Darma akhirnya secara rasminya, dihentikan pada 22 Julai 2016. Ikuti temu bual sidang editor DS bersama-sama Dr. Sastri Sunarti, pensyarah, eseis dan pengkritik sastera yang juga isteri Allahyarham Prof. Dr. Amin Sweeney, dan kini menjadi pendukung editor Horison Online.

DS: Tahun lepas, majalah Horison sudah dihentikan cetakannya dan sudah sepenuhnya menjadi majalah dalam talian. Bagaimanakah Dr. melihat perkembangan ini terhadap dunia sastera Indonesia?

Sastri: Jelas, sastera Indonesia kehilangan satu-satunya majalah sastera yang selama 50 tahun telah konsisten menerbitkan karya sastera di tengah miskinnya ruang sastera cetak di Indonesia. Selama 50 tahun terbitnya majalah Horison tentu telah memberikan pengaruh yang positif bagi gerakan perkembangan sastera di Indonesia. Pengaruh positif itu sudah menumbuhkan semangat berkarya sekali gus ruang berekspresi dalam kalangan penulis muda Indonesia. Namun, karena keterbatasan dana Horison akhirnya harus menghadapi kenyataan untuk menutup produksi cetak. Jelas, dunia sastera Indonesia berasa kehilangan, tetapi Horison sudah menyiapkan antisipasi dengan menyiapkan Horison online atau dalam jaringan sejak tahun 2010 lalu. Idea membuat Horison online digagaskan oleh Almarhum Prof. Dr. Amin Sweeney dan saya. Kami menjalankan Horison online berdua selama setahun karena beliau telah meninggal dunia pada akhir tahun 2010 di Cisarua, Bogor. Horison kehilangan pendukung yang kuat pada masa itu. Tetapi saya dan pentadbir Horison online tetap menjalankan Horison dan tentu saja didukung oleh Pak Taufiq Ismail dan Mas Jamal D. Rahman hingga saat ini. Jadi, sesungguhnya Horison tidak betul-betul hilang daripada peredaran dunia sastera Indonesia karena kami sudah menyiapkan medium penggantinya dalam bentuk majalah digital. Sesuatu yang tidak dapat dinafikan pada saat ini, yakni peralihan medium daripada medium cetak kepada medium internet. Demikianlah, Horison harus menyesuaikan dirinya dengan perkembangan dunia setakat ini. Juga, mengingatkan kelahiran generasi mileneal yang sangat fasih membaca daripada internet alih-alih daripada buku (cetakan), serta harga dan cara mendapatkan karya sastera secara online jauh lebih mudah bagi generasi mileneal ini.

DS: Adakah terdapat banyak perbezaan antara kandungan Horison di alam maya dengan cetak? Saya sedari, bahan kandungannya pun boleh dibaca secara percuma.

Sastri: Perbezaan isi antara Horison cetak dengan online sesungguhnya hanya terletak pada jumlah isi yang lebih leluasa di Horison online daripada Horison cetak. Namun, karena Horison online masih kekurangan dana, kami masih belum dapat memberikan honorarium kepada keseluruhan penulisnya. Honorarium hanya dapat diberikan setakat ini kepada penulis yang sudah senior dalam hal pengalaman bidang, terutama jika kami meminta mereka menulis secara khusus. Jika nanti kami berkembang dengan baik mungkin kami bisa mengandalkan iklan untuk membantu membayar honorarium para penulis secara keseluruhan.

DS: Daripada berita sedih ini mungkin elok beralih pada sesuatu yang lebih positif, lebih-lebih lagi dengan impak sastera Indonesia setelah berjaya menjadi tamu kehormat Pesta Buku Frankfurt.

Sastri: Ya. Banyak sekali yang baru berlaku di dunia sastera Indonesia saat ini, seperti tumbuhnya kantung-kantung sastera dan penulis muda di berbagai daerah karena keterbukaan informasi dan kehadiran internet yang memudahkan komunikasi dalam kalangan para penulis. Sebagai contoh, dulu, kantung sastera hanya banyak tumbuh di wilayah barat Indonesia, seperti Sumatera dan Jawa. Namun, sekarang kita dapat menemukan kelompok penulis Flobamora, yakni perkumpulan penulis muda dari Nusa Tenggara Timur yang dipisahkan oleh pulau-pulau seperti pulau Flores, Timor dan Alor.

Mereka melahirkan penulis muda yang berbakat seperti Mario F. Lawi yang berhasil mencuri perhatian publik sastera nasional karena gaya pengucapan puitis dan stilistika yang berbeza daripada gaya penulis Jakarta. Mario sememangnya dapat menjadi representasi penyair muda yang berhasil daripada komuniti Flobamora. Sajak-sajaknya yang sering dimuatkan oleh Kompas Minggu sangat banyak menggambarkan dunia jiwa penganut Katolik Kupang yang unik jika dibandingkan dengan penganut Katolik Jawa seperti Joko Pinurbo atau Ayu Utami. Jadi, dunia sastera Indonesia tidak lagi hanya berkembang di pusat kebudayaan Salihara atau Jogja saja.

Seorang lagi yang boleh diikuti ialah Mezra E. Pellandoe. Mezra seorang pengarang wanita yang rajin menulis cerpen, novel, puisi dan juga drama. Selain itu, ada pengarang senior dari daerah ini seperti Gerson Poijk dan Umbu Landu Paranggi, walaupun kedua-duanya membesar di luar Nusa Tenggara Timur dan tidak lahir daripada komuniti Flobamora.

DS: Sejauh manakah uniknya sastera Flobamora?

Sastri: Pertama, secara tema, karya sastera yang lahir daripada komuniti Flobamora mengusung isu sosial yang agak berbeza daripada isu karya sastera dari Jawa, Bali dan Sumatera. Perbezaan itu terletak pada isu dampak sosiopolitik peristiwa pemisahan Timor Leste dengan Indonesia. Tema begini kita jumpai terutama pada beberapa karya awal yang muncul dalam komuniti ini sekitar tahun 2000-an. Beberapa pengarang senior Indonesia, seperti Seno Gumira Ajidarma memang pernah menulis konflik sosial dan politik di Timor Leste dalam cerpennya, tetapi karya itu terhasil dari sudut pandang “orang luar” yang tentu berbeza jika ditulis oleh penulis yang merupakan mangsa dampak pemisahan kedua-dua negara itu; orang Timor Leste yang harus memilih menjadi warga Indonesia atau menjadi warga Timor Leste, disintegrasi atau bergabung dengan Indonesia. Nah, orang yang memilih bergabung ini kemudian menetap di daerah perbatasan di antara Indonesia dengan Timor Leste yang pada masa-masa awal penggabungan itu mengalami trauma psikologi akibat perang dan juga kehidupan sosioekonomi yang getir. Beberapa karya yang mengupas kisah orang Timor Timur yang memilih untuk bergabung ini ternyata banyak mengilhami beberapa karya yang menurut saya sangat kaya dari sisi pergelutan psikologi dan imej sosiobudaya yang karakter manusianya sama sekali berbeza daripada Melayu di Jawa, Bali, apatah lagi di Sumatera.

Kedua, dialek bahasa Indonesia-Kupang atau Indonesia Timur yang sangat unik ikut mewarnai gaya bahasa penulisan karya sastera komuniti ini, seperti memendekkan kata dalam bahasa Indonesia baku. Kata “sudah” menjadi “su”, “pergi” menjadi “pi”, “kita orang” menjadi “torang”, dan sebagainya. Atau sapaan gelaran khas kepada orang yang dihormati di daerah Kupang, seperti “Nona” untuk gadis muda, “Mama” untuk ibu-ibu, dan “Bapa Tua” untuk laki-laki dewasa atau yang dituakan.

Ketiga ialah latar budaya dan agama. Latar budaya dan agama yang mewarnai penyair dari dusun Flobamora sama sekali berbeza daripada latar budaya penulis Indonesia dari Jawa dan Sumatera yang dominan Muslim. Di sana, penulisnya dibesarkan dalam latar agama Katolik mahupun Kristian Protestan yang kental. Pendidikan gereja sangat mewarnai karya-karya pengarang muda daripada komuniti ini.

DS: Siapakah yang mencipta istilah “Flobamora” itu?

Sastri: Istilah Flobamora berasal daripada singkatan nama pulau di Nusa Tenggara Timur; Flores, Timor dan Alor. Istilah ini dicetuskan oleh para pendiri komuniti ini, seperti Mezra E Pellandoe. Alam laut dan daratnya yang indah dan kaya yang cenderung dirosakkan oleh pembangunan dan pengumpulan bahan mentah merupakan pesona tersendiri bagi provinsi Nusa Tenggara Timur. Alamnya agak berbeza sedikit daripada Papua yang kaya dengan hutan tropika, tetapi memiliki ciri linguistik dan fizik daripada rumpun bukan Austronesia. Malah, karakter dan ciri fizikal mereka amat jelas berbeza daripada orang Jawa, Makassar, Bali, Sumatera, bahkan Kalimantan.

Saya kira semangat kajian sastera serantau tidak cukup hanya dengan menerbitkan karya sastera secara konvensional mahupun dalam talian sahaja. Tetap diperlukan suatu usaha promosi yang lebih rancak agar minat secara serantau dapat ditumbuhkan.

DS: Dengarnya, banyak penerbit indie (mandiri) yang tumbuh bak cendawan di Indonesia. Menariknya, penerbit-penerbit ini semacam mahu cuba menjentik pasaran perdana yang dimonopoli oleh Gramedia.

Sastri: Keberadaan Gramedia yang “menggurita” serta mengambil untung besar untuk perusahaan, tetapi memberikan keuntungan kecil bagi pengarang memang mulai digugat oleh penulis Indonesia. Para penulis sekarang bersekutu dengan penerbit indie yang lahir daripada persahabatan, perkumupulan sasterawan dan penulis di kumpulan Facebook. Dari sana, mereka membangunkan jaringan penulis, penerbit dan pembaca yang kebanyakannya berasal daripada kalangan sesama pengarang juga. Meski kesannya peredaran buku mereka hanya terbatas dalam kalangan kelompok itu-itu juga, tetapi mereka berhasil menerbitkan buku dengan harga yang lebih murah dan mendapatkan keuntungan penjualan secara langsung tanpa harus melalui perhitungan rabat yang kecil daripada penerbit besar semacam Gramedia. Kewujudan penerbitan alternatif ini membuatkan produksi karya sastera tidak mandek (terhambat) dan dapat berjalan terus. Hanya sekarang, karya sangat banyak, tetapi kritikan yang baik terhadap karya yang banyak ini belum terjadi di Indonesia. Ertinya, karya sudah melimpah tetapi kritikan sasteranya miskin. Hal ini berbahaya juga bagi mutu kesusasteraan jika tidak ada kontrol bagi penerbitan karya yang bermutu, yakni melalui kritikan sastera.

DS: Ada sarjana Indonesia dari Leiden baru-baru ini berasa risau dengan keadaan lambakan buku Indonesia separa ilmu-pop di lapangan terbang serata Indonesia jika dibandingkan dengan pameran buku di lapangan terbang antarabangsa di bandar-bandar utama Eropah.

Sastri: Nah, kenyataan saya tadi tidak terlepas daripada hukum pasar perdagangan buku yang memang laris manis dengan jenis buku yang anda maksudkan. Namun, menurut saya, setiap pasaran buku memiliki segmen pembacanya yang tersendiri. Jika ingin mencari karya sastera yang bermutu jangan dicari di lapangan terbang, carilah di pasar buku Jogja atau di Cak Tarno di Gang Kober Universitas Indonesia. Bukunya bermutu dan harganya murah.

DS: Mengapakah pensyarah universitas dan pengkritik di Indonesia sudah berhenti meneliti karya Malaysia, jika dibandingkan dengan era HB Jassin dan A. Teeuw dahulu?

Sastri: Pertanyaan ini juga sudah banyak dilontarkan oleh pengkaji sastera Indonesia sendiri. Pokok permasalahannya menurut saya ialah jarang sekali buku karya sastera Malaysia yang bisa diperoleh dengan mudah di Indonesia. Inilah yang gagal digiatkan oleh ASEAN yang hanya mengandalkan perdagangan dan perekonomian, tetapi lupa memajukan dan mengenalkan karya antara negara ASEAN sendiri. Peran ini seharusnya dilakukan oleh Majlis Sastera Asia Tenggara (MASTERA), Perhimpunan Sastera Budaya Negara Serumpun (PSBNS) atau Numera, perkumpulan sasterawan di ruang lingkup ASEAN. Jadi, tidak hanya sasterawannya yang berkumpul, tetapi juga para kritikus dan pengkajinya juga harus saling berkongsi ilmu dan saling membicarakan karya dari negara masing-masing. Jangan seperti MASTERA yang pengkritik dari Indonesia hanya membicarakan karya Indonesia sahaja. Idealnya ialah, kritikus sastera Indonesia membicarakan karya sastera dari Malaysia atau negara ASEAN yang lain. Dengan demikian, publik dari negara ASEAN masing-masing mulai mengenal karya sastera dari negara anggota ASEAN yang lain. Harus ada ruang untuk membicarakan karya sastera antara negara ASEAN ini dan harus dimulai. Jika tidak, kita tidak akan saling mengenal budaya dan perkembangan sastera di rantau ini.

DS: Mengapakah pasaran sastera ASEAN masih kelihatan berpagar-pagar, sedangkan kita sudah mempunyai platform jualan dalam talian yang sudah melangkau sempadan fizikal konvensional?

Sastri: Saya kira semangat kajian sastera serantau tidak cukup hanya dengan menerbitkan karya sastera secara konvensional mahupun dalam talian sahaja. Tetap diperlukan suatu usaha promosi yang lebih rancak agar minat secara serantau dapat ditumbuhkan. Daya usaha untuk menjambatani pengenalan karya sastera Malaysia di Indonesia contohnya, perlu sekali dilakukan agar publik luas di Indonesia mengenal karya sastera Malaysia, seperti popularnya francais Upin dan Ipin di Indonesia. Mengapa kita tidak belajar daripada promosi budaya ala Upin dan Ipin yang sukses melakukan penetrasi budaya melalui media audio visual, sehingga kendala bahasa Melayu seperti yang dikeluhkan oleh sebahagian orang Indonesia mungkin dapat diatasi sekiranya promosi itu lebih gencer dilakukan? Usaha-usaha promosi sebegitu mungkin dapat ditempuh dengan membicarakan karya sastera Malaysia di pusat-pusat sastera seperti Salihara di Jakarta, Bandung, Jogja, atau ke kota-kota seperti Padang, Medan, Makassar dan Denpasar. Atau, laksanakan pembicaraan karya sastera Malaysia di kampus-kampus sastera atau fakultas ilmu budaya di Indonesia dan pertemuan sastera serantau. Jelas, pelaksanaan ini masih minimum.

Baik karya sastera Indonesia mahupun karya sastera Malaysia setakat ini hanya dikenali oleh segelintir masyarakat sastera di kedua-dua negara. Namun, penyebab utama kurangnya minat terhadap karya sastera ialah tidak berdayanya kritikan sastera mutakhir. Hasil kritikan sastera yang kecil ikut menghambat pengenalan karya sastera itu sendiri. Karya begitu banyak, tetapi pembahasnya amat sedikit. Ditambah pula dengan sedikitnya ruang kritikan sastera di media, khususnya surat khabar dan jurnal kritikan sastera sedia ada. Rintangan psikologi saya kira juga patut diperhatikan, yakni sentimen terhadap sikap sebahagian rakyat Malaysia terhadap pekerja imigran Indonesia ke Malaysia yang ikut menimbulkan ketidakpercayaan publik sastera Indonesia terhadap Malaysia. Sikap seperti ini harus disingkirkan karena tidak sihat dan tidak mendidik, dan saya kira jalur budaya seperti sastera dapat menjadi jambatan yang baik untuk memulihkan rintangan psikologi ini. Sebagaimana berhasilnya Upin dan Ipin dengan loghat Melayu Malaysia yang kental memukau penonton Indonesia tanpa mempermasalahkan adakah tontonan itu milik Malaysia atau Indonesia.

DS: Apakah reaksi Dr. akan kehadiran E-Sastera dari Malaysia dengan percubaannya melancarkan beberapa program dan buku sastera di Indonesia?

Sastri: Kehadiran E-Sastera menjadi kenescayaan pada zaman yang dikuasai oleh sistem maklumat seperti saat ini. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelum ini, bahawa anak muda kita belajar sastera dan menulis karya sastera melalui internet dan tidak lagi membaca buku atau majalah bercetak. Saya kira, perkembangan ini harus direbut oleh pengayaan pembacaan sastera dan isi kandungan yang bermutu, salah satunya sudah tentu melalui E-Sastera. Tetapi juga, harus kaya dengan visual yang menarik minat pembaca muda. Alih wahana karya sastera saya kira juga menjadi salah satu cara menumbuhkan minat generasi muda kepada sastera yang bermutu.

Sayang, saya belum mengamati dengan adil saksama akan karya dan sepak terjang Dr. Irwan Abu Bakar ini, kecuali sedikit berita bahawa beliau sudah mulai melakukan pertunjukan di Banten dan pondok pesantren. Hal ini suatu usaha yang baik, tetapi tetap belum cukup. Harus lebih banyak usaha promosi yang harus dilakukan oleh pihak Malaysia untuk mempromosikan karya sasteranya. Nama Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM) sudah dikenal baik dan bergengsi di Indonesia. Saya kira ITBM lebih gencar melakukan promosi di Indonesia dan tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga sampai ke Timur Indonesia jika perlu. Malah, saya pernah menulis satu kritikan terhadap novel Dia dan Nya karya Sutung Umar RS (Allahyarham) yang saya peroleh ketika pameran buku ITBM di Jakarta. Tulisan itu dimuatkan dalam jurnal Rampak Serantau, Bil. 23 2016. Tetapi usaha itu juga belum cukup karena diterbitkan di Negara Brunei Darussalam. Lebih elok jika kritikan terhadap karya Bang Sutung itu dapat dimuatkan dalam media di Indonesia.

Dunia Melayu memiliki penulis sekaliber Shakespeare yang mungkin belum dilihat oleh para ‘orang-orang tua’ yang menjadi juri di Stockholm, tempat Nobel Kesusasteraan ditasbihkan.

DS: Kiranya, E-Sastera juga sahabat maya Horison Online juga, memandangkan E-Sastera mempunyai ruang web yang dibuka untuk kiriman dan penyiaran karya dalam talian.

Sastri: Ya, tentu saja, barangkali kita bisa membuat pautan bagi kedua-dua media dalam talian ini agar ketika pembaca kedua-dua media ini bisa saling membuka pautan itu di web masing-masing. Saya akan bicarakan dengan tim redaksi lainnya dan saya kira Pak Taufiq Ismail dan Mas Jamal D. Rahman akan setuju dengan gagasan ini.

DS: Dr. dan Allahyarham Amin Sweeney tentu sudah melalui pelbagai cabaran dunia sastera. Apakah yang paling manis?

Sastri: Hmm, banyak hal manis daripada beliau jika itu menyangkut kecintaan pada dunia sastera Melayu, tidak kira Malaysia ataupun Indonesia. Dia seorang sarjana yang sangat mencintai bidangnya. Malah, militan pada bidang ilmunya untuk mengkaji sastera Melayu-Indonesia. Beliau berpesan bahawa jangan rendah diri dengan sastera Eropah karena sastera Melayu memiliki keunggulannya yang tersendiri. Jangan menghamba pada penghargaan Hadiah Nobel Kesusasteraan dan berkecil hati jika sekiranya hingga hari ini karya sastera dunia Melayu belum mendapatkan penghargaan elit itu karena nilai-nilai para jurinya tentu berbeza daripada nilai-nilai yang terdapat dalam estetika dan sastera Melayu.

Dunia Melayu memiliki penulis sekaliber Shakespeare yang mungkin belum dilihat oleh para “orang-orang tua” yang menjadi juri di Stockholm, tempat Nobel Kesusasteraan ditasbihkan. Bagi Amin Sweeney, retorik sastera Melayu memiliki kecanggihan yang tidak kalah hebat jika dibandingkan dengan retorik sastera Eropah yang agung itu. Pusat pengkajian sastera Melayu harus tumbuh dan berkembang di tanah Melayu dan bukan di pusat pengkajian sastera di Eropah seperti di Leiden atau di London, dan mungkin kini di Jerman.

DS: Apakah antara wasiat terakhir Amin Sweeney kepada sastera Indonesia yang Dr. terima daripadanya?

Sastri: Wasiat terakhirnya buat sastera Indonesia ialah hasil penterjemahannya terhadap keseluruhan karya lengkap puisi Taufiq Ismail ke dalam bahasa Inggeris, dan untuk itu Pak Taufiq sangat berterima kasih dan terharu. Sebetulnya, Pak Ajip Rosidi juga sudah menghantar karyanya untuk diterjemahkan oleh Cik Amin kita ini. Tapi sayang, maut lebih dulu menjemputnya.

 

Buletin JendelaDBP
Inginkan berita dan artikel utama setiap hari terus ke e-mel anda?

Kongsi