Diterbitkan pada 19 Mei 2026, 16:12

Untuk mendapatkan maklumat terkini, ikuti kami melalui Telegram DBPMalaysia

Langgan Sekarang

Lantai kayunya pernah dimamah anai-anai
dipunggah senyap-senyap ke perut tanah
beberapa kali papan gelegar bertukar
sebelum akhirnya sepakat diganti batu
tetapi kini sudah lama retak dan rekah
ada tanah keras menyelit di celah liang
perabung perak rongak dan atap terselak
di penjuru tiang membuhul sebongkah busut
dan balainya sedikit demi sedikit ditakluk
makhluk Tuhan yang terkenal gigih

wakaf tua ini dulu bagai dewan terbuka
pak tani melepaskan panas nafas
bersidai seketika dari bahang mentari
selain tempat berehat dan solat
bercerita sambil menghirup kopi bekal
atau memantau unggun berbara
yang bakal menyerbakkan wangi asap

bau ubi kayu bakar di wakaf tua itu
harumnya mempelawa diriku singgah
dengan liur tergucur dan tekak berselera
acap juga sengaja aku lewati wakaf itu
saban kali pulang dari sekolah
meski ada permatang lain boleh kupilih
lebih dekat dan cepat tiba di rumah
semata-mata ingin mencicip aroma itu

di wakaf tua tengah bendang itulah
aku mula menyukat suhu hidup
menimbang jerih ayah, para pesawah
mengenal erti cekal, kental dan tawakal
dari keluh hingga senda tawa mereka

kini setelah usiaku sudah pun senja
pulang ke desa membawa gelar pesara
tadi siang kulewati sawah pawahan ayah
dari atas asfalt baharu yang merentang
sempat kutatap wajah wakaf tua itu
yang seakan kuyu membalas mataku
dan tiba-tiba aku teringat
kata-kata nasihat berisi semangat
agarku tidak warisi kemiskinan miliknya.

Kg. Beta Hulu, Kelantan

Kredit Foto: Firus Fansuri
Hak cipta terpelihara © JendelaDBP. Sebarang salinan tanpa kebenaran daripada Pengarah Penerbitan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) akan dikenakan tindakan undang-undang.
Buletin JendelaDBP
Inginkan berita dan artikel popular harian terus ke e-mel anda?

Kongsi